Posted by: gayolut | June 16, 2007

Danau Laut Tawar

Luas 5.472 Ha, Panjang rata-rata 17 km, Lebar Rata – rata 3,219 km, Volume air 2,5 trilyun Liter (2.537.483.884 m3), Jalan Propinsi Sebelah Utara: 18 km, Sebelah Selatan: 24 km

 

Sifat Fisik Danau

1.      Jumlah Aliran bermuara ke danau 25 Sungai/ aliran/alur dengan debit total

     10.043 ltr/detik, yang keluar ke Kr. Peusangan ; 5.664 ltr/detik

 

2.  Kedalaman Rata – rata

          Jarak dari Pingir Kedalaman Rata-rata

·         35 m 8,9 m

·         100 m 19,27 m

·         620 m 51,13 m

 

3.      Suhu Air Danau Rata – Rata

           Kedalaman Suhu Rata-rata

·         1 m 21,55oC

·         5 m 21,37 oC

·         10 m 21,15oC

·         20 m 20,70 oC

·         50 m 19,35 oC

 

4.      Kecerahan tertinggi 2,92 m (ditengah danau), terendah 1,29 m (Kp. KualaII), Semakin tinggi kecerahan semakin jernih air

 

danau1.jpg


Sifat Kimia Danau

1.      pH (keasaman)Untuk mendukung mahluk hidup di biota air tawar dibutuhkan pH antara 6,7 – 8,6, pH Danau Laut Tawar rata-rata 8,35

 

2.      DO (Dissolved Oxygen) – Oksigen Terlarut = Kehidupan di air (hewan/ tumbuhan) dapat bertahan hidup jika DO minimum 5 ppm,; DO Danau Laut Tawar rata-rata 5,94 ppm

 

3.      BOD (Biological Oxygen Demand) = Kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk enetralisir bahan organik, BOD tinggi pencemaran bahan organik tinggi. BOD 1 ppm air sangat bersih, 2 ppm bersih, 3 ppm agak bersih, 4 ppm diragukan kebersihannya. BOD Danau Laut Tawar rata-rata 0,8 ppm

 

4.      COD (Chemical Oxygen Demand) = Kebutuhan oksigen oleh bakteri dan mikroba untuk Penetralisir bahan kimia, COD tinggi pencemaran bahan kimia tinggi. COD Danau Laut Tawar sangat kecil (tidak terditeksi)

 

5.      Bahan Anorganik, untuk menditeksi pencemaran yang diakibatkan oleh aktivitas ekonomi masyarakat seperti pemupukan, limbah rumah tangga dll.

a.      Nitrogen, idealnya 0,3 ppm
Nitrogen Danau Laut Tawar (dalam bentuk Nitrat 0,032 ppm, dalam bentuk nitrit 0,002 ppm) sangat kecil (tidak terditeksi)

b.      Fosfat, Jika lebih dari 0,015 ppm, ganggang akan tumbuh subur
Fosfor Danau Laut Tawar rata-rata 0,51 ppm, (diperkirakan dari Diterjen,Pupuk, hewan mati, kotoran hewan & limbah Rumah tangga lainnya)

c.      Kalium, Danau Laut Tawar rata-rata 1,98 ppm (diperkirakan dari pupuk dan hewan mati)

 

6.      Bahan Organik, terutama lemak/minyak
Bahan organik Danau Laut Tawar sangat kecil (tidak ternyata)

 

Flora Danau
Vegetasi penyangga Danau Plankton (Fitoplnkton & Zooplankton) : 46 Jenis, 11 kelas, kelas Chlorophyceae 35%, Bacillariophyceae 24 %, Myxophyceae 9%, lain-lain 32 %.
Eceng Gondok, Hydrilla dan Kiambang terdapat merata di pingir danau

 

Vegetasi Rumput 36 Jenis/Spesies

Vegetasi Hutan didominasi oleh Pinus merkusii, Kayu Nunang, Kayu Pirak (Annonaceae), Gele Uten (Family Myrtaceae), Batang Kapuk (Gossypium sp)
Vegetasi Perkebunan : 16 Jenis/spesies, didominasi oleh Kopi Arabika (Coffea arabica)

 

Fauna Danau
Fauna sekitar danau Moluska 3 jenis/spesies, Annelida 1 jenis
Pisces, 22 Jenis ikan, 15 jenis ikan setempat (Native)
Insekta 49 Spesies

Aves (burung) 10 Spesies
Mammalia 20 Spesies, 13 famili, 13 diantaranya termasuk hewan yang dilindungi (Binturung, pukas, Trenggiling, landak, Kancil, Napu, Owa, siamang, Tanado, Harimau, Kucing Hutan, Rusa, Kijang)

Penduduk Sekitar
Jumlah Penduduk disekitar Danau 21.487 Jiwa (2002), 4 Kecamatan, 23 Desa
Bintang, 14 Desa (Bamil Nosar, Bale Nosar, Mude Nosar, Kejurun Syiah Utama, Mengaya, Bewang, Kala Bintang, Kuala I, Gegarang, Merodot, Linung Bulen II, Kala Segi, Kelitu Sintep)
Kebayakan, 3 Desa (Lot Kala, Mendale, Kala Lengkio)
Bebesen, 2 Desa (Kemili, Keramat Mupakat)
Lut Tawar, 4 Desa (Toweren Toa, Rawe, Pedemun One-one, Hakim Bale Bujang, Kelurahan Takengon Timur)

 

Posted by: gayolut | June 16, 2007

Busana Adat Gayo

Di masa silam orang Gayo pernah mengenal bahasan busana dari kulit kayu nanit, hasil tenunan sendiri dari bahan kapas, dan bahan kain yang didatangkan dari luar daerah Gayo. Periode pemakaian nanit sudah jauh dari ingatan orang sekarang, yang konon dipakai pada masa-masa sulit di zaman kolonial Belanda atau masa sebelumnya. Kegiatan bertenun pun sudah lama tak tampak dalam kehidupan mereka, kecuali pada masa pendudukan balatentara Jepang di mana kehidupan serba sulit. Busana yang diperkenalkan di sini dibatasi pada busana sub kelompok Gayo Lut yang berdiam di Kabupaten Aceh Tengah. Uraian tentang busana atau pakaian ini termasuk unsur perhiasan atau assesorisnya yang dikenakan dalam rangka upacara perkawinan, karena di luar upacara itu tidak tampak. adanya ciri busana khas Gayo, lebih-lebih pada zaman masa belakangan ini.

Unsur-unsur pakaian pengantin wanita adalah baju, kain sarung pawak, dan ikat pinggang ketawak. Unsur-unsur perhiasan adalah mahkota sunting, sanggul sempol gampang, cemara, lelayang yang menggantung di bawah sanggul, ilung-ilung, anting-anting subang gener clan subang ilang, yang semuanya itu ada di seputar kepala. Di bagian leher tergantung kalung tangang terbuat dari perak atau uang perak tangang ringit dan tangang birah-mani; clan belgong yang merupakan untaian manik-manik. Kedua lengan sampai ujung jari dihiasi dengan bermacam-macam gelang seperti ikel, gelang iok, gelang puntu, gelang berapit, gelang bulet, gelang beramur, topong, dan beberapa macam cincin sensim belah keramil, sensim genta, sensim patah paku, sensim belilit, sensim keselan, sensim ku I. Bagian pinggang selain ikat pinggang dari kain ketawak, masih ada tali pinggang berupa rantai genit rante; clan di bagian pergelangan kaki ada gelang kaki. Unsur busana lain yang sangat penting adalah upuh ulen-ulen selendang dengan ukuran relatif lebar.

Busana adat perkawinan Gayo, mengetengahkan kekayaan teknik sulaman benang warna putih, merah, kuning dan hijau. Pakaian pria dikenal dengan sebutan baju Aman mayak, pakaian wanita disebut Ineun mayak.

Pengantin pria mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi tempat menancapkan sunting. Unsur lain adalah baju putih, tangang, untaian gelang pada lengan, cincin, kain sarung, genit rante, celana, ponok yakni semacam keris yang diselipkan di pinggang.

Sanggul sempol gampang dengan bentuk tertentu sempol gampang bulet dipakai pada saat akad nikah, dan ada bentuk lain sempol gampang kemang yang dipakai selama 10 hari setelah akad nikah. Sunting yang semacam mahkota itu merupakan susunan perca kertas minyak warna-warni sebagai simbol kebesaran atau keanggunan. Baju pria dan wanita clan celana pria biasanya berwarna hitam. Sedangkan kain sarung adalah semacam songket yang disebut upuh kerung bakasap.

Unsur pakaian yang diberi hiasan adalah upuh ulen-ulen, baju wanita baju kerawang, clan ketawak. Motif-motif hiasan yang selalu muncul pada ketiga unsur pakaian ini adalah: mun berangkat atau mun beriring (awan berarak), pucuk rebung (pucuk rebung), puter tali (pilin berganda), peger (pagar), matan lo (matahari), Wen (bulan). Motif mun berangkat merupakan simbol kesatuan atau kesepakatan; pucuk rebung bermakna ikatan yang teguh; puter tali bermakna kerukunan atau saling tenggang; peger bermakna ketahanan clan ketertiban; matan lo dan ulen adalah kekuatan yang menyinari alam semesta termasuk manusia itu sendiri.

Motif-motif di atas dijahitkan dengan benang berwarna putih, merah, kuning, dan hijau pada latar warna hitam pada selendang upuh ulen-ulen. Kecuali motif matahari clan bulan, motif-motif lainnya dituangkan pula pada baju wanita dengan latar hitam. Motif pada stagen ketawak berlatar kain warna merah muda atau merah bata. Belakangan latar kain tempat menuangkan motif tadi menjadi sangat bervariasi, tergantung pada selera penjahitnya, misalnya biru, kuning, merah, coklat clan lain-lain. Unsur pakaian itu bukan lagi untuk suatu upacara adat seperti perkawinan, tetapi dipakai dalam upacara yang bersifat resmi lainnya. Perkembangan ini ada kecenderungan sebagai memperkuat identitas atau kebanggaan etnik. Pakaian semacam itu dipakai para pejabat dalam menerima tamu terhormat yang datang dari luar daerah, misalnya menteri. Tamu terhormat itu pun disambut penari yang menggunakan “baju adat” baju ketawang dengan berselimut upuh ulen-ulen tadi. Biasanya tamu terhormat atau tamu – agung itu diselimutkan pula dengan kain adat upuh ulen-ulen berkualitas terbaik. Pemberian ini sebagai simbol rasa hormat yang tinggi sekaligus sebagai ungkapan penerimaan yang ikhlas dari masyarakat.

Pada masa yang lebih akhir ini industri kerajinan kain bernuansa adat ini digalakkan oleh pemerintah setempat clan berkembang menjadi industri kerajinan rumah tangga. Motif-motif tadi tidak hanya dituangkan pada busana, tetapi sudah muncul pada kopiah, tas, dompet, taplak meja, bantalan kursi, clan lain-lain. Perkembangan ini dirasakan semakin memantapkan identitas budaya.

Hasil-hasil kerajinan yang muncul dalam berbagai item tadi, yang dikenal dengan kerawang Gayo kebetulan mendapat perhatian pada di luar Gayo. Hal itu menyebabkan tumbuhnya industri “Kerawang Gayo” di luar daerah Gayo, misalnya di Banda Aceh, Medan, Jakarta dan hasilnya muncul di berbagai toko cenderamata di berbagai kota di Indonesia.

Posted by: gayolut | June 14, 2007

Suku Gayo

Suku Gayo bukan bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh. suku Gayo adalah suku minoritas yang berbeda kebudayaannya dengan budaya suku Aceh.

Suku Gayo memiliki kerajaan yang berdiri sendiri dan dinamakan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empu Beru, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (tahun 1012 M -1038 M). Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge bersama seorang perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.

histo11.jpg

Cap resmi Kerajaan Linge (1287 H/1869 M)

Suku Gayo atau urang (orang) Gayo adalah penduduk asli yang mendiami daerah Takengon, Linge, Bebesan, Pegasing, Bintang dll (Kabupaten Aceh Tengah), Redelong, Pondok Baru, Wih Pesam, Timang Gajah dll (Kabupaten Bener Meriah), Blangkejeren, Rikit, Terangun, Kuta Panjang dll (Kabupaten Gayo Lues), dan Serbejadi (Kabupaten Aceh Timur). Generasi lebih tua sering menyebut suku ini dengan sebutan Gayo Lut, Gayo Lues dan Gayo Serbejadi.

Gayo Lut atau Gayo Laut mendiami hampir seluruh daerah yang berada dalam Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Urang Gayo (Orang Gayo) saat ini banyak yang merantau ke luar daerah asalnya, baik itu dalam wilayah Indonesia maupun diluar negeri.

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.